Melalui itulah kisah Ndaru, gadis yang bertahan dari amukan badai kehidupan, perlahan diungkap. Kisah tersebut bermula dari kehidupan tenang di Balamoa, Tegal, hingga episode paling pahit di Banjarmasin, Kalimantan. Sejak muda, Ndaru hidup dengan banyak kegelisahan dan cita-cita besar. Ia ingin menjadi guru, sosok yang baginya memiliki kedudukan terhormat, bahkan lebih tinggi daripada seorang meneer Belanda maupun istri simpanannya yang oleh rakyat biasa disebut “Nyai”.
Keluarga “nyai” yang paling sering mencuri perhatian warga Balamoa adalah keluarga Nyai Munah, dan Mirah merupakan salah satu putrinya. Meskipun ibu Ndaru melarang anaknya bergaul dengan keluarga “nyai”, Ndaru tetap bersikeras berteman dengan Mirah. Baginya, Mirah adalah sosok yang mampu memahami isi pikirannya yang kritis. Selain itu, Mirah merupakan kawan yang tulus dan tidak pernah pamrih.
Menjelang kekalahan Belanda dalam Perang Pasifik, rakyat kecil menghadapi masa-masa sulit. Pada masa inilah Mirah sering membantu Ndaru yang kekurangan bahan pangan. Kepada Mirah, Ndaru tidak pernah sungkan meminta pertolongan, meskipun ia tetap berusaha menghindari pertemuan dengan Nyai Munah, anak-anaknya yang lain, terlebih lagi Tuan Huibert. Mulai dari memberi beras hingga menyerahkan sebelah giwang miliknya, Mirah selalu berusaha membantu Ndaru. Padahal, sejak suiker fabriek atau pabrik gula mulai merugi hingga akhirnya tutup, kehidupan keluarganya sendiri ikut terpuruk.
Babak kehidupan inilah yang kemudian menyeret Ndaru pada episode paling kelam dalam hidupnya. Ketika Balamoa tidak lagi menjanjikan masa depan yang baik, Ndaru dan Mirah memutuskan kabur ke Borneo. Lepas dari penjajahan Belanda, mereka justru terjebak dalam tipu daya slogan “Nippon Cahaya Asia”. Keduanya menjadi ianfu di sebuah barak tentara Jepang.
Kehidupan di tempat itulah yang meninggalkan trauma panjang bagi Ndaru. Ia tidak sanggup mendengar segala hal yang berkaitan dengan Jepun, Nippon, atau Jepang. Ironisnya, budaya Jepang justru sangat digandrungi oleh cucunya pada masa kini. Kontradiksi tersebut membuat Ndaru sering kambuh: mengamuk, memecahkan barang, dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Melalui tokoh Wulan, Sinta Yudisia hendak menitipkan pesan pahit, sepahit brotowali yang sering dikunyah Ndaru, bahwa meskipun zaman telah berubah dan berlalu, fakta bahwa generasi awal bangsa ini pernah menjadi korban kebengisan Jepang tidak dapat dihapus begitu saja.
Karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, sikap bijaksana menjadi kunci dalam memaknai kebebasan hidup di zaman yang kembali dipenuhi berbagai tipu daya.
